Jumat, 01 Juni 2018

cerpen ku "cinta yang suci"


Di depan pondok yang tidak begitu jauh jaraknya dari rumah, aku bertemu dengan seorang pria yang tampan dan tinggi semampai putih dengan hidungnya yang mancung. Aku merasa seperti pernah mengenalnya, tapi aku tidak mengingatnya sama sekali siapa dia. Akupun tidak menghiraukannya dan pergi berlalu dari hadapannya.

Sebelumnya perkenalkan, namaku
 dia seperti orang dimasa laluku, tetapi aku tidak ingat siapa dia. Sebelumnya aku ingin Aku tidak pernah ingat kejadian atau bahkan orang-orang penting sekalipun di masa lalu,hanya ada satu orang yang aku ingat namanya yaitu iqbal, tapi aku tak ingat siapa dia dan rupanya bagaimana karena aku pernah mengalami kecelakaan sebelumnya. Dan ketika aku melihat warna matanya yang cokelat indah membuatku penasaran ingin mengetahui siapa dia gerangan dan mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya.
“assa....” baru saja lelaki tersebut membuka mulutnya hendak mengucapkan salam, tapi nyatanya aku malahan pergi tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun.
Aku adalah putri semata wayang dari abi dan ummiku tentunya, sehingga wajar saja jika ummi dan abi mendidik anaknya yang satu ini dengan gemblengan dan tempaan agama, karena beliau menginginkan aku menjadi orang yang berguna untuk meneruskan perjuangan abi di pondok pesantren ini. Aku sangat menyayangi ummi dan juga abi, karena beliau ini sangat sabar dalam mendidik aku, dan juga terus bersabar walaupun aku sempat tidak mengingat beliau ini siapa karena kecelakaan itu, yah kecelakaan 6 tahun lalu yang menyebabkan aku koma selama 2 minggu, dan setelah bangun aku tidak bisa mengingat siapapun dan kejadian apa yang menimpaku sebelumnya aku tidak ingat sama sekali, yah itu bagus karena setidaknya dengan tidak mengingatnya membuatku tidak trauma dan terngiang-ngiang akan kejadian itu. tetapi ummi dan abi tetap bersabar mengenalkan semuanya dari awal seperti seorang ayah dan ibu yang baru memiliki seorang bayi, mengenalkan semuanya padaku, yah dari sanalah aku dapat merasakan bahwa kasih ibu itu sepanjang masa dan tiada hentinya.
 Aku masuk ke rumah tergesa-gesa dengan jidat yang penuh peluh dan tanpa mengucapkan salam karena lupa saking capeknya. Ummi dan abi yang kebetulan sedang menerima tamu melihat ke arahku karena aku bertindak kurang sopan dihadapan para tamu beliau. Abi mengerlingkan matanya kepadaku menandakan bahwa aku harus bersikap sopan di depan tamu, karena tamu itu harus dimuliakan begitu kurang lebih yang pasti akan abi sampaikan kepadaku.
Aku langsung memberikan salam kepada tamu abi dan duduk berdampingan bersama abi. sepertinya mereka ini adalah  orangtua santri baru, apa jangan-jangan orangtua dari lelaki yang tadi aku temui di depan pondok? Ah entahlah pikirku.
“kiayi apakah ini hanifa kecil?” paman itu menanyakanku.
“haha apakah kamu sudah tidak mngenalinya lagi? Ini hanifa kecil, sekarang dia sudah besar” abi menepuk-nepuk kepalaku dengan lembut sambil tersenyum.
“wah ternyata anak kita ini tumbuh dengan cepat yah kiayi”
“yah, mereka kan tumbuh, masa kecil mulu, wong saya selalu ngasih makan dia tiap hari 3 kali toh, haha. Ngomong-ngomong mana anakmu itu? nak Iqbal kan?” abi tertawa bersama paman itu.
“iya betul kiyai, untung saja anak kita ini sangat cepat pertumbuhannya, Oh iqbal sedang berkeliling dulu, katanya dia ingin melihat keadaan pondok sekarang setelah di tinggalnya bertahun-tahun”
“pasti nak iqbal akan terkejut karena banyak yang berubah disini, haha.. kalian semua akan menginap disini?”
“tidak kiyai terimakasih atas tawarannya tapi  saya nanti sore juga harus langsung terbang lagi, padahal saya pengen banget sekali-kali bisa nginep disini, merasakan suasana riuhnya santri, pasti enak toh kiyai? Haha. Jadi begini kiayi, maksud kedatangan kami ke sini adalah mendaftarkan iqbal untuk bersekolah dan juga mondok disini, karena iqbal bilang dia ingin medapatkan ijazah SMA nya itu dari pondok ini, katanya dia bosen, ijazah SD dan juga SMPnya semuanya dari mesir,haha. Padahal Sebenarnya saya sudah bilang pada iqbal tanggung untuk pindah, karena hanya tinggal satu tahun lagi, tapi dasar namanya juga iqbal, dia sudah kangen dengan keadaan disini, dan kemudian saya juga untuk dua tahun kedepan akan sering pulang ke Indonesia. Jadi saya putuskan biarlah iqbal disini, supaya lebih terpantau, haha ” paman itu terbahak-bahak.
“oh baiklah serahkan saja anak itu kepada saya, saya kan dari dulu sudah menganggap nak iqbal itu sebagai anak sendiri, jadi jangan sungkan-sungkan pak susilo” abi begitu terlihat senang.
Aku mengingat nama itu, iqbal ya iqbal, apakah dia orang penting di masa laluku? Ah entahlah, tapi Mungkin saja iya, karena abi dan ummi sudah sangat akrab sekali, semoga saja dia memang benar orang yang aku cari, supaya aku bisa menghilangkan rasa penasaranku.
 Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang tadi aku temui mengetuk pintu rumah dan masuk ke dalam.
“assalamu’alaikum?”
“wa’alaikum salam warahmatullah”
“Abi, ummi, ayah, ibu maaf saya baru melihat keadaan pondok dulu tadi, ternyata sekarang sudah lebih modern dan berubah 360 derajat abi” laki-laki itu tersenyum kepada semuanya.
“apakah kamu menyukainya nak? Sudah lama kamu tidak datang kesini pantas saja kamu akan menemukan sesuatu yang berbeda.” abi bertanya pada laki-laki itu seperti yang sudah mengenalnya sangat lama.
“ya abi, aku kira pondok ini akan sama seperti waktu aku berangkat ke mesir.”lelaki itu tersenyum
“Oh iya, Hanifa mana abi?”laki-laki itu menanyakan aku.
 “apakah kamu sudah lupa nak iqbal? Ini hanifa kita” abi menunjukan jarinya pada ku.
“apa? Itu hanifa abi? Subhanallah ternyata hanifa sudah besar sekarang abi, tadi aku sempat bertemu dengannya di depan pondok,tapi aku kira dia santri di sini, pas saya mau mengucapkan salam dia malah lari terbirit-birit seperti habis melihat hantu,haha. Dan ternyata yang tadi itu hanifa adik kecilku yang lucu dan mungil abi, kalau saja hanifa masih kecil, pasti sudah aku peluk abi, haha. Ngomong-ngomong Apa kabar hanifa?” laki-laki itu bertanya kepadaku.
“al-hamdulillah baik” aku menjawab seadanya karena terkejut mendengar laki-laki itu berbicara seperti sudah mengenalku sangat lama,kemudian aku berbicara kepada abi dengan pelan.
“abi, siapa dia? Apakah dia teman masa kecil hanifa? Yang iqbal Iqbal itu?”
“iya betul nak, itu iqbal yang selalu kamu ingat, sampai saat ini”
“hah apa iya abi?”
“iya nak, itu orangnya, dia baru pulang dari mesir”
Aku merasa shok saat abi mengatakan hal itu, dan entah mengapa air mataku mengalir dengan derasnya.
“hanifa kenapa abi?” dari raut mukanya, iqbal itu seperti khawatir melihat keadaanku yang berurai air mata.
“hmm jadi begini, maaf sebelumnya. Saya baru mengatakannya kali ini, karena kami merasa shok waktu itu, dan sampai sekarang saya tidak pernah menceritakannya kepada siapapun, karena takut hanifa menjadi shok atau trauma dengan kejadian itu”
“memangnya kenapa abi? Kejadian apa yang menimpa hanifa abi?”
“jadi begini nak iqbal, pak susilo,  hanifa sempat mengalami kecelakaan 6tahun yang lalu gara-gara tertabrak mobil, sehingga anak kami ini tidak mengingat apapun atau mengalami amnesia, tetapi ada satu yang dia ingat,yaitu hanya nama nak iqbal saja, itupun dia tidak mengenali wajahnya yang mana, dia hanya mengingat namanya saja. Dan lebih menyedihkannya lagi, hanifa tidak mengingat abi sama umminya, kami sempat khawatir dengan kesehatan hanifa, tapi perlahan-lahan memorinya mulai kembali dan berangsur-angsur pulih tetapi tidak kembali 100%.” abiku menceritakan pasal hilangnya ingatanku kepada paman, bibi dan juga iqbal yang berada dihadapanku.
“astagfirullah, kenapa abi baru cerita sekarang? Dan sekarang Hanifa? Apa sekarang kamu bisa mengingatku? Aku iqbal, aku teman masa kecilmu, kita sering bermain bersama, dan kamu sering memanggilku dengan sebutan bang iqbal, apa kamu masih ingat hanifa? Kita sering bermain bersama di taman depan pondok, kita sering berlari-lari dan selalu melihat pemandangan sore hari di dekat danau, apa kamu ingat hanifa?” iqbal beruraian air mata karena dia merasa sedih aku pernah mengalami hilang ingatan yang sampai saat ini ingatanku tidak 100% bisa mengingat semua kejadian di masa kecilku.
“bang iqbal?” aku berpikir keras dan mencoba mengingat kejadian kebelakang, aku mengingat satu hal bahwa pada sore hari aku selalu melihat pemandangannya yang indah di tepian danau. dan setelah aku mengingat sebagian kecil kejadian kebalakang, barulah memori di otakku tiba-tiba terbuka sedikt demi sedikit dan mengingatnya.
“bang iqbal, apa ini benar-benar bang iqbal yang dulu selau melindungi aku dari anak-anak nakal dari kampung sebelah? abang yang selalu mendukungku ketika aku pernah mengikuti lomba murotal se-kecamatan? Apa itu benar-benar abang?” aku tidak bisa membendung air mataku yang mulai jatuh dengan derasnya.
“al-hamdulillah akhirnya kamu mengingat semuanya, terimakasih ya allah kau telah mengembalikan ingatan bidadari kecil hamba” bang iqbal, yah bang iqbal terlihat bahagia karena aku sudah mengingatnya.
Ya terjawablah semua pertanyaanku yang tadi pernah mengganjalku saat bertemu di depan pondok bahwa aku seperti mengenalnya. Dan ternyata benar dugaanku, aku mengenalnya begitu dekat. dan Kini aku bersyukur dapat bertemu dengannya dan dapat mengingatnya setelah bertemu langsung dengannya.
 Bang iqbal adalah teman kecilku yang paling aku sayang dan juga aku hormati, tetapi aku dan bang iqbal harus berpisah karena kalau tidak salah bang iqbal itu pergi ke mesir bersama orangtuanya karena ayahnya bekerja sebagai duta besar di sana. Sehingga mau tidak mau, mereka pindah dan bang iqbal menempuh pendidikan disana, dan sekarang kembali lagi kesini untuk meneruskan jenjang SMA nya di pondok ini, tetapi dia sekarang sudah duduk di bangku kelas 3, bang iqbal pindah kesini denga alasan dia ingin mempunyai ijazah SMA itu dari pondok ini bukan dari mesir dan juga untuk dua tahun kedepan ayahnya akan sering bolak-balik mesir-indonesia.
Malamnya aku langsung membuka laptopku dan menuliskan Kejadian hari ini yang tak akan pernah aku lupakan, dan memang sebelum-sebelumnyanya aku selalu mencatat seluruh kegiatanku, atau cerita yang ku dapat setiap hari di laptopku, aku tidak suka menulis catatan harianku di buku tulis, karena membutuhkan waktu yang lama jika aku harus menulinya, jadi lebih baik aku gunakan saja teknoogi yang sudah canggih ini, biarpun aku tinggal di pondok bukan berarti aku gagap teknologi, itu persepsi yang salah, karena walaupun santri disini berdomisili di pondok, tapi semuanya tidak gagap teknologi, semuanya mengikuti arus zaman. Dan setelah aku selesai mencurahkan seluruh kejadian yang terjadi di hari ini di laptopku, aku langsung pergi untuk tidur dan bangun lebih awal  untuk melaksanakan shalat tahajud.
jam wekerku berbunyi dengan sangat kencang menunjukan bahwa sudah pukul 3 pagi, dan kini saatnya aku harus bergegas bangun untuk melaksanakan shalat tahajud  dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu dan juga sekalian mandi karena saat pagi nanti, aku tidak akan sempat untuk mandi sebab aku selalu mengikuti kegiatan kuliah subuh yang berisi ceramah para kiyai dan ustadz ustadzah sampai jam setengah tujuh pagi, sedangkan jam tujuh bel sekolah sudah berbunyi.
Abi dan ummi sudah standby di mushola, abi dan ummi selalu bangun lebih awal dariku, mereka tidak pernah membangunkan aku untuk melaksanakan shalat tahajud, karena abi bilang “abi akan bangga jika kamu melaksanakan ibadah itu bukan karena di pertintah oleh abi, tapi atas dasar kesadaran kamu sendiri, karena melaksanakan ibadah itu harus ikhlas, bukan karena takut dimarahi abi” kurang lebih abi berbicara itu kepadaku dan selalu diingatnya dalam benakku, yah abiku itu memang sangat bijaksana sekali, beliau tidak pernah mengekangku untuk melakukan hal ini atau itu, beliau memberikan kebebasan kepadaku, Asal itu baik di mata allah utamanya.
Sekarang abi dan ummi sedang tadarus al-qur’an sambil menunggu aku untuk sahur bersama, karena kami memiliki kebiasaan melaksanakan puasa sunnah senin dan kamis, dan itu sudah menjadi kegiatan rutin bersama keluarga kami. dan Seusainya melaksanakan shalat tahajud aku langsung pergi ke dapur menghampiri abi dan ummi untuk makan sebelum waktu sahurnya habis, dan ternyata 10 menit setelah makan sahur, adzan berkumandang. dan sekarang kini saatnya aku, abi, dan ummi pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah.
Ketika aku keluar dari rumah, dua sahabatku yang bernama ratih dan juga sahida sudah menungguku untuk pergi ke masjid bersama, mereka berdua adalah sahabat terbaik yang aku miliki, karena mereka selalu setia bersamaku baik dalam keadaan suka ataupun duka kami selalu bersama, dan saling melengkapi setiap kekurangan yang dimiliki.
“assalamu’alaikum tuan putri? Ayo cepat kita pergi ke masjid, nanti telat lagi, kami sudah lama menunggu kamu nih” ratih berlagak marah sambil tersenyum karena dia orangnya jarang marah.
“wa’alaikum salam sahabat-sahabatku yang setia, maaf kalian lama menunggu, hehe. Tadi aku habis… ” aku menggoda mereka dulu supaya tidak marah-marah.
“hmm pasti udah panggilan alam dulu, iyo kan?” sahida dengan logat jawanya mencoba menginterogasi.
“huuh sok tahu kamu sahida, orang aku…ah lupain ajah deh, eh temen-temen aku punya berita besar loh, ah tapi engga mau cerita ah” aku mencoba membuat temanku ini penasaran sambil tertawa geli.
“opo toh fa berita besar opo toh? Kamu ndak boleh main rahasia-rahasiaan ama kita loh fa”
“iya apa fa berita besar apa? Cerita dong fa jangan main sembunyi-sembunyian gak seru ah kamu fa? Kita marah loh, iya kan sahida?”
“iyo, kita berdua nanti marahan sama kamu loh, mau opo ora?” sahida mencoba membujukku.
“haha gitu ajah marah,ntar deh aku ceritain sama kalian berdua, sekarang kita pergi dulu ke masjid takut telat, nanti gak kebagian shalat jamaah nya”
Ketika hendak masuk masjid, kami bertiga berpapasan dengan ustadz jaka, ustadz jaka tersenyum kearah kami, yang membuat ratih dan sahida sangat histeris saat ustadz jaka memberikan senyumannya yang sangat indah mempesona nan fenomenal. ratih dan sahida adalah penggemar berat ustadz jaka, mengapa tidak?  Karena ustadz jaka adalah ustadz termuda, tertampan, terpintar, tersopan, dan terkaya di pondok ini, jadi pantas saja kalu santri disini sangat tergila-gila dengan ustadz jaka termasuk ratih dan juga sahida.
Ustadz jaka adalah seorang guru pengajian di pondok ini dan juga seorang guru di MAN Nurussalam, walaupun umur beliau ini terpaut hanya 4 tahun denganku, tapi ustadz jaka sudah diangkat menjadi guru disini untuk mengajar para santri. Padahal kalau di pikir-pikir ngapain mau ngajar disini, karena ustadz jaka ini adalah putra dari pemilik perusahaan batu bara, tapi beliau tetap ingin stay disini untuk mengajar para santri, itulah keputusannya dan orangtuanya pun mendukung penuh keputusan putranya. Selain itu, ustadz jaka adalah alumni dari pesantren ini, sehingga abi sudah mengenal kemampuannya untuk mengajar. dan selama ustadz jaka mondok di sini, ustadz jaka sering mengisi pengajian ketika ustadz yang bersangkutan berhalangan hadir.  selain itu juga  beliau adalah seorang mahasiswa di UIN Yogyakarta semester 2 jurusan sastra arab, wah pokoknya ustadz jaka ini memiliki banyak kejutan dalam dirinya, sehingga wajar saja kalau santri putri disini ngefans berat sama ustadz jaka, dan ngejar-ngejar ustadz jaka.
Ketika di dalam masjid, ratih dan sahida sangat heboh karena mendapatkan senyuman ustadz jaka yang begitu fenomenal, mereka teriak-teriak sambil ditahan-tahan takut dimarahi pembimbing asrama. dan akupun tidak memungkiri, aku juga menyuki ustadz jaka, menyukai kesederhanaannya, dan menyukai kepintarannya tapi tidak sampai tergila-gila seperti santri yang lainnya.
Seusai melaksanakan shalat subuh bersama, kami bertiga dan para santri pergi ke gedung untuk pengajian, mendengarkan ceramah para kiyai sampai nanti pukul 06.30 WIB. waktupun tak akan terasa berjalan dengan begitu cepatnya karena seru mendengarkan kajian agama, dan jam dindingpun sudah menunjukan pukul 06.25 WIB, ceramah di akhiri oleh kiyai Mahmud dan semua santri berhamburan dari gedung untuk segera mengantri di kamar mandi.
Aku pulang ke rumah dan mengganti pakaianku dengan pakaian sekolah, karena aku harus bersiap untuk menuntut ilmu yang berikutnya, dan kemudian aku berpamitan untuk berangkat ke sekolah kepada abi dan ummi. Aku berangkat bersama-sama jalan kaki dengan ratih dan juga sahida karena jarak dari rumah ke sekolah hanya sekitar 200 meter, tidak jauh, sangat dekat sekali, hanya membutuhkan waktu beberapa menit, kamipun langsung sampai di sekolah.
Aku sekarang duduk di bangku kelas 1 MAN Nurussalam, aku satu kelas dengan ratih dan juga sahida di program keagamaan. . Kelasku berada di lantai 4, lantai teratas, sehingga aku sering menggunakan lift karena jika menggunakan tangga, pasti aku akan kelelahan, nyampe kelas bukannya belajar malah tepar.
Hal yang aku sukai dari sekolah yang dikelola abi ini adalah:
1.      MAN Nurussalam merupakan Madrasah Aliyah yang terbilang elite di Bandung. Bangunannya begitu luas dan menjulang tinggi ke atas, suasananya masih asri dan juga sangat nyaman, karena  desain bangunan sekolah ini dirancang olehku sendiri dan dibantu oleh perancang terkenal asal Jakarta, aku meminta beliau untuk tetap mempertahankan keasriannya.
2.      Hal lain yang aku suka adalah perpustakaannya yang begitu besar dan bukunya yang begitu banyak menumpuk, rak-rak berjajar sangat rapi dan elok, kumpulan bukunya sangat lengkap, dan tak jarang mahasiswa UIN Yogya datang berkunjung ke perpustaakn ini untuk menambah referensi mereka.
Bel berbunyi menandakan aku harus masuk kelas dan memulai pembelajaran di hari ini. Pembelajaran berjalan dengan lancar tanpa suatu hambatan apapun. dan setelah jam menunjukan pukul 10.00 WIB aku langsung pergi ke perpustakaan sendirian, aku tidak pernah mengajak ratih dan juga sahida untuk pergi ke perpustakaan, karena mereka sangat anti dan juga alergi dengan membaca dan melihat tumpukan buku di rak yang begitu banyaknya.
Ketika aku hendak masuk ke dalam perpustakaan, aku bertabrakan dengan bang iqbal yang sedang menenteng buku di tangannya, semua bukunya jatuh, karena aku masuk terlalu bersemangat dan sangat terburu-buru, aku takut jam istirahat berakhir.
“astagfirullah, ba..bang iqbal, maaf maaf bang, biar hanifa yang beresin bang, hanifa tadi gak liat-liat” aku buru-buru jongkok dan membereskan buku bang iqbal yang berserakan di lantai.
“ih gak apa-apa hanifa, biar abang ajah yang beresin, lagian tadi abang juga gak liat kalo di depan ada orang” bang iqbalpun ikut membereskan bukunya yang berserakan.
“ini bang bukunya, hanifa minta maaf bang, hanifa tidak sengaja, hanifa…”
“sst, gak apa-apa hanifa, kamu kaya sama sipa saja, jangan canggung begitu, santai aja kali, abang gak papa kok. Hanifa mau pergi ke perpus juga?” bang iqbal tersenyum kearah ku  melihatku tertunduk malu.
“hehe iya bang maaf, ya iyalah hanifa mau pergi ke perpus, masa udah didepan perpus dibilang mau pergi ke kantin” aku mengajaknya bercanda, tapi garing.
“oh iya, abang kurang logis yahkalo gitu barengan yah, abang juga mau ini nyimpen buku”
“oh iya bang, biar hanifa bantuin bang sini”
“engga, engga usah, ini cuma sedikit kok, tenang aja” bang iqbal sok strong, padahal jelas bahwa dia sangat keberatan dengan buku yang dibawanya, haha dia memang gak berubah ternyata.
“yee abang sok strong, huu dasar, padahal mah beratkan?” aku mengodanya untuk mencairkan suasana.
“hehe hanifa tahu ajah kalau abang keberatan bawa ini buku, nih kalo gitu ambil semua bukunya, kamu yang bawa ya, haha” dia mulai bercanda dan suasanapun mencair.
“loh kok jadi hanifa? Gak mau ah, mendingan hanifa kabur…” aku lari ke dalam perpustakaan dan bersembunyi di balik rak besar
“dasar anak nakal, dari dulu gak pernah berubah, tapi al-hamdulillah, hanifa sudah kembali seperti semula, dasar bidadari kecilku yang cantik dan lucu, kalau masih kecil, pasti sudah aku peluk itu anak, haha ”
Setelah mengembalikan buku ke penjaga perpustakaan, bang iqbal lagsung datang menghampiriku, dan anak-anak yang berada di sekitar terlihat memperhatikan aku dan juga bang iqbal.
“hey mana yang mau bantu abang? Dasar anak nakal, kalau kamu masih kecil pasti sudah aku cubit pipi kamu itu” bang iqbal terlihat sangat gemes denganku.
“yee mana ada orang yang mau bantuin kalo bukunya diambil semua sama yang dimintai tolong, huu dasar, nih cubit nih cubit pipi” aku memegang tangan bang iqbal untuk mencubit pipiku. Aku melakukannya dengan spontanitas, tangan bang iqbal langsung kaku saat aku pegang dan terasa dingin, aku langsung melepaskan tangannya. Dalam hati aku berkata “astagfirullah betapa bodohnya aku ini, kita berdua kan sudah bukan muhrim lagi, kita berdua sudah baligh, masyaallah ampuni aku ya allah, aku suka lupa segalanya kalau sudah bercanda”
“hanifa permisi dulu bang assalamu’alaikum” aku langsung pergi dari hadapannya, dan tidak sempat meminta maaf.
Aku langsung pergi ke kelas dan langsung menunuduk di atas bangku, ratih dan juga sahida yang melihatku mulai khawatir dengan keadaanku.
“hanifa, kamu tidak apa-apa? Kamu kenapa? Datang ke kelas kok jadi pucat begitu, seperti yang udah lihat hantu, ada apa hanifa? Cerita sama kita” ratih membredeliku dengan pertanyaan
“iya hanifa, ada apa toh? Kok datang ke kelas jadi begini, apa ada yang mengganggumu? Ayo cerita sama aku, biar nanti tak laporin sama guru BK” sahida mulai emosi.
“eh apa sih sahida main mau lapor ajah” aku marah pada sahida
“mbok ya kenapa kalo gitu fa? Jangan buat kita khawatir dong, kita berdua ini kan sahabatmu toh, jadi kamu jangan menyembunyikan apapun dari kita dong fa”
“jadi begini…” aku menceritakan semuanya kepada ratih dan juga sahida mulai dari kejadian kemarin sampai sekarang.
Mereka berdua tertawa mendengarkan ceritaku, sampai-sampai sahida pergi ke toilet utuk pipis.
“fa..fa.. rasain kamu, makanya kamu kalau bercanda itu jangan berlebihan, jadi gini kan baru kerasa akibatnya sekarang, bang iqbalnya sampai jadi mati kutu kalo gitu, haha. Tapi kamu udah minta maaf kan?”
“malah ketawa, menari diatas penderitaan teman sendiri itu namanya, belum tih, aku belum sempat ngucapin maaf, soalnya tadi aku jadi gugup, aku  langsung kabur ajah deh”
“bahahaha..hahaha..hahaha.. fa maaf ya aku izin ke toilet dulu, aku udah gak tahan nih, bahahaha, maaf ya, aku permisi dulu”
“huh dasar, punya temen kok beser semua, hehe” aku tertawa karena tingkah dari teman-teman ku.
Dari arah luar kelasku, terdengar suara ajeng memanggil namaku, dia berteriak untuk aku keluar, katanya ada orang yang mau bertemu dengan aku. Siapa ya yang mencari aku, mungkin guru yang mau ngasih tugas.
“iya ada apa jeng?” aku pergi keluar, dan ternyata yang berada diluar itu bang iqbal, ya allah, aku harus gimana, aku merasa malu atas kejadian tadi di perpustakaan.
“ha..”
“ba..” kami berdua berbarengan mengucapkan nama masing-masing. Dan suasana hening beberapa saat, tapi aku langsung memulai pembicaraan, karena aku tidak menyukai kecanggungan ini.
“hmm bang iqbal dulu ajah yang bicara” aku berbicara terbata-bata.
“hmm tidak, hanifa dulu ajah yang ngomong, ladies first” bang iqbal malah mempersilakan aku untuk berbicara duluan
“hmm ya udah hanifa duluan, soal yang tadi…”
“aku minta maaf” kami berdua mengucapkan kata maaf bersamaan, kemudian di sambung bang iqbal yang berbicara.
“abang minta maaf hanifa, tadi abang bercandanya berlebihan, abang suka lupa, abang merasa kamu itu masih kecil padahal kita kan udah baligh, jadi..”
“iya bang aku ngerti, malahan seharusnya aku yang minta maaf, karena aku sudah lancang sama abang, padahal kita sekarang bukan mahramnya.”
“hmm baiklah kalau begitu, kita akhiri kecanggungan ini ya, abang gak suka kalau suasananya beku gini, kaya lagi di kutub utara ajah” bang iqbal mulai mencairkan suasana lagi. Dan aku mulai tersenyum lagi.
“al-hamdulillah, ada aromanis disini, manis banget” bang iqbal tertawa.
“mana bang?” aku menengok ke arah kiri dan kanan.
“nih di depan abang” bang iqbal menggombal.
“ih apaan sih bang, abang gombal nih” aku tersipu malu, pasti sekarang pipi aku merah kaya kepiting rebus nih.
“ih ada yang malu nih, jadi makin cantik, makin lucu, ups” bang iqbal langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dan terlihat malu saat mengucapkan bahwa aku cantik dan lucu. Hehe dasar abang.
“abang pergi dulu ya fa, bel masuk udah bunyi, assalamu’alaikum” bang iqbal gugup dan langsung pergi sambil setengah berlari menuju kelasnya yang tidak jauh dari kelasku, sambil menengok ke arahku dan tersenyum
“wa’alaikum salam warahmatullah, ya allah hatiku meleleh rasanya, senyumannya ituh loh manis kaya gula, eh atstagfirullah aku kok malah ngomong gitu, suka ngawur ah, tapi emang iya sih, hehe” aku tersenyum sambil masuk ke kelas.
Ratih dan sahida masuk kedalam kelas dan menghampiriku.
“eh sahida, bukannya tadi cuacanya mendung ya? Tapi kok sekarang udah cerah kembali? Al-hamdulillah yah”
“iyo ratih kamu bener, sekarang cuacanya udah cerah kembali, syukurlah kalau begitu, hehe” ratih dan sahida mulai mengajakku untuk bercanda.
“ih apaan kalian berdua, bercanda mulu kerjaannya, gak ada yang lain apah?” aku berlagak marah ke mereka berdua.
“ih jangan marah dong hanifa, maafin kita berdua yah, kamu senyum lagi dong” ratih melebarkan bibirku untuk tersenyum.
Aku tersenyum ke mereka dan menceritakan kejadian barusan kepada mereka berdua.
“oalah Al-hamdulillah kalo gitu mah fa, berarti masalahnya udah klir dong, udah rebes kan?
“iya sahida, al-hamdulillah, sekarang keadaan sudah kembali lagi ke semula, tapi hari ini jadinya aku gak sempat baca buku di perpustakaan gara-gara tadi, hehe”
“itu sih gara-gara ulah kamu sendiri fa, dasar kamu inih, jadi kena sendiri kan batunya,hehe. eh fa, sekali-kali kenalin kita sama bang iqbal dong, kita kan pengen tahu, bang iqbal itu yang mana, ganteng gak? Tadi sih kata anak-anak di luar yang lagi rumpi, kakak kelas yang ngomong ama kamu itu katanya ganteng melebihi ustadz jaka, apa bener fa? Wah masa ustadz jaka ada yang ngalahin kegantengannya sih?”
“hehe iya nanti aku kenali ke kalian berdua, tapi ada syaratnya”
“opo toh syaratnya? Pake ada acara syarat-syarat segala toh? Haaa takut di rebut sama aku yo? Haha tenang ajah fa, aku mah akan tetap setia sama ustadz jaka kok, hehe”
“ada apa?apa yang setia-setia hmm?” ustadz jaka tiba-tiba datang ke kelas.
“u..u..u” sahida terbata-bata mengatakan nama ustadz jaka, dan pipinya mulai memerah seperti kepiting bakar.
“u..u..u apa sahida? Udah sekarang kalian semua duduk, kita sambung pelajaran matematika kemarin yang belum selesai” ustadz jaka menyuruh kami untuk melakukan pembelajaran.
“haha rasain kamu sahida, sekarang kena kamu sendiri” aku mengejek sahida yang sedang tertunduk malu.
Pembelajaran ustadz jakapun berlangsung selama 3 jam pelajaran. Kami sangat menyukai dan juga menikmati pelajaran ini, karena ustadz jaka selalu menyampaikan pelajarannya dengan jentre atau dengan jelas. karena beliau mempunyai prinsip, “ seorang guru tidak akan sukses kalau muridnya belum mengerti dan juga faham apa yang beliau sampaikan”. sehingga dalam pembelajaranya, ustadz jaka selalu memantau muridnya, kalau-kalau ada murid yang tidak mengerti ustadz jaka tidak akan beranjak dari materinya.
Bel berbunyi menandakan waktunya jam istarahat kedua, yaitu untuk melaksanakan shalat dzuhur berjamaah di masjid al-ikhlas, semua murid yang ada di sekolah berhamburan keluar kelas untuk pergi ke masjid, dan kamipun melaksanakan shalat dzuhur bersama.
Setelah melaksanakan shalat dzuhur berjamaah, semua murid langsung memulai pembelajaran kembali, dan akan berakhir pada pukul 3 sore. Semuanya berlangsung selama 3 jam, dan jam pelajaranpun berakhir, seluruh siswa menenteng tasnya dan kembali ke asramanya masing-masing.
“hmm ratih, sahida, hari ini aku tidak pulang bareng ama kalian yah?”
“memangnya kenapa?”
“iyo kenapa? Memangnya kamu mau kemana toh? Ajak-ajak kita dong fa”
“beneran kalian mau ikut bareng aku? “
“memangnya kamu mau kemana fa?”
“mau ke perpus, mau ikut, haha”
“aku duluan ajah deh kalo gitu hehe”
“hehe aku juga mau ikutan ratih ajah ah, kalo ke perpustakaan mah kapan-kapan ajah, kan kamu tahu sendiri kalo aku alergi sama buku yang menumpuk begitu banyaknya, hehe, pengen muntah rasanya. Kalo gitu kita berdua pulang duluan yo, hehe assalamualaikum fa”
“huh dasar kalian, kalo di ajak ke perpustakaan ajah, pasti langsung pada kabur, wa’alaikum salam, hati-hati yah”
“iya kamu juga nanti pulangnya hati-hati yah” ratih dan sahida beranjak pergi dari hadapanku.
Tadi ustadz ja’far ngasih tugas bahasa arab bwanyak bener, mumpung sekarang aku lagi di perpustakaan, aku bakalan cari kamus arab dulu ah, nanti setelah itu cari buku yang lain. Aku menanyakan letak kams bahasa arab karya Mahmud yunus kepada penjaga perpustakaan, penjaga itu mengatakan bahwa kamusnya terletak di ujung sebelah kiri, di rak bagian paling atas. Aku mencarinya dan menemukannya, kamusnya hanya tinggal satu lagi yang tersisa, dan itu terletak di bagian paling atas sekali. Aku mengambil kursi dan mencoba untuk meraihnya, dan ketika aku hampir memegangnya, kamus itu malah ada yang mengambil dari arah berlawanan, tanpa berpikir jernih itu siapa yang mengambilnya, aku langsung saja marah-marah dan menghampiri orang yang mengambil kamus itu.
“gak tahu apah, udah cape-cape naek kursi buat bawa kamus, malah di ambil du…” ketika aku melihatnya, ternyata ustadz jaka yang mengambilnya, ups, aku jadi malu, aku marah-marah gak jelas, ih malu-maluin banget emang aku inih.
“hanifa? Kamu mau ambil kamus ini?”
“e..e..e iya ustadz, saya tadi  mau ngambil buku itu, tapi pas..”
“nih ambil ajah” ustadz jaka memberikan kamusnya padaku.
“eh engga ustadz, gak apa-apa, biar ustadz ajah, mungkin ustadz lebih membutuhkannya daripada saya, biar saya nanti cari kamus dirumah, biar nanti aku Tanya aja ama abi”
“gak papa ini ambil ajah, saya engga terlalu terburu-buru kok pakenya, kamu mungkin ada tugas, biar kamu duluan ajah yang pake nih” ustadz jaka menyodorkan bukunya kepadaku
“ayo ambil nih, gak usah malu-malu, ambil gih sana”
“hmm ya udah deh hanifa pinjem duluan kalo gitu ya ustadz”
“iya silakan, tapi aku boleh minta satu hal?” ustadz jaka mengangkat alisnya salah satu.
“apa ustadz?”
“apa kamu gak keberatan panggil saya abang selama di luar kelas?”
 “hah abang? Emm apa saya sopan panggil ustadz dengan sebutan abang?”
“engga apa-apa, saya malahan senang kalau para santri disini panggil saya dengan sebutan bang jaka ajah, biar lebih akrab, saya kan gak tua-tua amat iya kan?hehe, tapi kalau didalam kelas ya tetep panggil ustadz jangan panggil abang, gimana?”
“oke deh boleh, saya juga seneng kalau ustadznya seneng, hehe, sebelumnya makasih ya buat kamusnya ustadz”
“hmm?”
“eh maksudnya abang, hehe maklum belum terbiasa toh?hehe”
“iya engga apa-apa kok, eh tapi hanifa, nanti kalau misalnya kamu udah selesai menggunakan kamus nya, kamu jangan dulu dikasih oranglain yah, soalnya saya butuh untuk tugas makalah saya”
“oh ok siap bang, nanti hanifa langsung kasihin ke abangnya langsung,hehe. Kalo gitu hanifa pamit pulang dulu yah, udah sore”
“sama saya juga mau pulang kok, orang perpustakaannya juga mau tutup, ”
“oh iya, hehe. Kalo gitu saya duluan mau ke penjaga perpus dulu”
“Iya silakan”
“assalamu’alaikum”
“wa’alaikum salam warahmatullah” ustadz jaka tersenyum simpul, senyum yang fenomenal itu diberikannya padaku. Wah kalau ratih dan sahida lihat, pasti mereka udah pingsan disini.hehe
Aku pulang ke rumah  langsung pergi makan dan mandi, setelah itu pamitan pada abi dan juga ummi untuk pergi ngaji.

Aku langsung pulang bersama sahida dan ratih bercanda dengan mereka sepanjang jalan.  dan ketika aku keluar dari gerbang sekolah, aku merangkul sahida dan mengajaknya bercanda ke tengah jalan, ratih memperingatkan aku supaya aku jangan bermain ditengah jalan, tetapi aku tidak mendengarkan perintahnya, aku malah menarik tangan sahida untuk bermain-main, tetapi tiba-tiba dari arah ber


Tidak ada komentar:

Posting Komentar