Di depan pondok
yang tidak begitu jauh jaraknya dari rumah, aku bertemu dengan seorang pria yang
tampan dan tinggi semampai putih dengan hidungnya yang mancung. Aku merasa
seperti pernah mengenalnya, tapi aku tidak mengingatnya sama sekali siapa dia. Akupun
tidak menghiraukannya dan pergi berlalu dari hadapannya.
Sebelumnya
perkenalkan, namaku
dia seperti orang dimasa laluku, tetapi aku
tidak ingat siapa dia. Sebelumnya aku ingin Aku tidak pernah ingat kejadian
atau bahkan orang-orang penting sekalipun di masa lalu,hanya ada satu orang
yang aku ingat namanya yaitu iqbal, tapi aku tak ingat siapa dia dan rupanya
bagaimana karena aku pernah mengalami kecelakaan sebelumnya. Dan ketika aku
melihat warna matanya yang cokelat indah membuatku penasaran ingin mengetahui
siapa dia gerangan dan mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda dari
biasanya.
“assa....” baru
saja lelaki tersebut membuka mulutnya hendak mengucapkan salam, tapi nyatanya
aku malahan pergi tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun.
Aku adalah putri
semata wayang dari abi dan ummiku tentunya, sehingga wajar saja jika ummi dan
abi mendidik anaknya yang satu ini dengan gemblengan dan tempaan agama, karena
beliau menginginkan aku menjadi orang yang berguna untuk meneruskan perjuangan
abi di pondok pesantren ini. Aku sangat menyayangi ummi dan juga abi, karena
beliau ini sangat sabar dalam mendidik aku, dan juga terus bersabar walaupun
aku sempat tidak mengingat beliau ini siapa karena kecelakaan itu, yah
kecelakaan 6 tahun lalu yang menyebabkan aku koma selama 2 minggu, dan setelah
bangun aku tidak bisa mengingat siapapun dan kejadian apa yang menimpaku
sebelumnya aku tidak ingat sama sekali, yah itu bagus karena setidaknya dengan
tidak mengingatnya membuatku tidak trauma dan terngiang-ngiang akan kejadian
itu. tetapi ummi dan abi tetap bersabar mengenalkan semuanya dari awal seperti
seorang ayah dan ibu yang baru memiliki seorang bayi, mengenalkan semuanya
padaku, yah dari sanalah aku dapat merasakan bahwa kasih ibu itu sepanjang masa
dan tiada hentinya.
Aku masuk ke rumah tergesa-gesa dengan jidat
yang penuh peluh dan tanpa mengucapkan salam karena lupa saking capeknya. Ummi
dan abi yang kebetulan sedang menerima tamu melihat ke arahku karena aku
bertindak kurang sopan dihadapan para tamu beliau. Abi mengerlingkan matanya
kepadaku menandakan bahwa aku harus bersikap sopan di depan tamu, karena tamu
itu harus dimuliakan begitu kurang lebih yang pasti akan abi sampaikan
kepadaku.
Aku langsung
memberikan salam kepada tamu abi dan duduk berdampingan bersama abi. sepertinya
mereka ini adalah orangtua santri baru,
apa jangan-jangan orangtua dari lelaki yang tadi aku temui di depan pondok? Ah
entahlah pikirku.
“kiayi apakah
ini hanifa kecil?” paman itu menanyakanku.
“haha apakah
kamu sudah tidak mngenalinya lagi? Ini hanifa kecil, sekarang dia sudah besar”
abi menepuk-nepuk kepalaku dengan lembut sambil tersenyum.
“wah ternyata
anak kita ini tumbuh dengan cepat yah kiayi”
“yah, mereka
kan tumbuh, masa kecil mulu, wong saya selalu ngasih makan dia tiap hari 3 kali
toh, haha. Ngomong-ngomong mana anakmu itu? nak Iqbal kan?” abi tertawa bersama
paman itu.
“iya betul
kiyai, untung saja anak kita ini sangat cepat pertumbuhannya, Oh iqbal sedang
berkeliling dulu, katanya dia ingin melihat keadaan pondok sekarang setelah di
tinggalnya bertahun-tahun”
“pasti nak
iqbal akan terkejut karena banyak yang berubah disini, haha.. kalian semua akan
menginap disini?”
“tidak kiyai
terimakasih atas tawarannya tapi saya
nanti sore juga harus langsung terbang lagi, padahal saya pengen banget
sekali-kali bisa nginep disini, merasakan suasana riuhnya santri, pasti enak
toh kiyai? Haha. Jadi begini kiayi, maksud kedatangan kami ke sini adalah
mendaftarkan iqbal untuk bersekolah dan juga mondok disini, karena iqbal bilang
dia ingin medapatkan ijazah SMA nya itu dari pondok ini, katanya dia bosen,
ijazah SD dan juga SMPnya semuanya dari mesir,haha. Padahal Sebenarnya saya
sudah bilang pada iqbal tanggung untuk pindah, karena hanya tinggal satu tahun
lagi, tapi dasar namanya juga iqbal, dia sudah kangen dengan keadaan disini, dan
kemudian saya juga untuk dua tahun kedepan akan sering pulang ke Indonesia.
Jadi saya putuskan biarlah iqbal disini, supaya lebih terpantau, haha ” paman
itu terbahak-bahak.
“oh baiklah
serahkan saja anak itu kepada saya, saya kan dari dulu sudah menganggap nak
iqbal itu sebagai anak sendiri, jadi jangan sungkan-sungkan pak susilo” abi
begitu terlihat senang.
Aku mengingat
nama itu, iqbal ya iqbal, apakah dia orang penting di masa laluku? Ah entahlah,
tapi Mungkin saja iya, karena abi dan ummi sudah sangat akrab sekali, semoga
saja dia memang benar orang yang aku cari, supaya aku bisa menghilangkan rasa
penasaranku.
Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang
tadi aku temui mengetuk pintu rumah dan masuk ke dalam.
“assalamu’alaikum?”
“wa’alaikum
salam warahmatullah”
“Abi, ummi,
ayah, ibu maaf saya baru melihat keadaan pondok dulu tadi, ternyata sekarang
sudah lebih modern dan berubah 360 derajat abi” laki-laki itu tersenyum kepada
semuanya.
“apakah kamu
menyukainya nak? Sudah lama kamu tidak datang kesini pantas saja kamu akan
menemukan sesuatu yang berbeda.” abi bertanya pada laki-laki itu seperti yang
sudah mengenalnya sangat lama.
“ya abi, aku
kira pondok ini akan sama seperti waktu aku berangkat ke mesir.”lelaki itu
tersenyum
“Oh iya, Hanifa
mana abi?”laki-laki itu menanyakan aku.
“apakah kamu sudah lupa nak iqbal? Ini hanifa
kita” abi menunjukan jarinya pada ku.
“apa? Itu
hanifa abi? Subhanallah ternyata hanifa sudah besar sekarang abi, tadi aku
sempat bertemu dengannya di depan pondok,tapi aku kira dia santri di sini, pas
saya mau mengucapkan salam dia malah lari terbirit-birit seperti habis melihat
hantu,haha. Dan ternyata yang tadi itu hanifa adik kecilku yang lucu dan mungil
abi, kalau saja hanifa masih kecil, pasti sudah aku peluk abi, haha.
Ngomong-ngomong Apa kabar hanifa?” laki-laki itu bertanya kepadaku.
“al-hamdulillah
baik” aku menjawab seadanya karena terkejut mendengar laki-laki itu berbicara
seperti sudah mengenalku sangat lama,kemudian aku berbicara kepada abi dengan
pelan.
“abi, siapa
dia? Apakah dia teman masa kecil hanifa? Yang iqbal Iqbal itu?”
“iya betul nak,
itu iqbal yang selalu kamu ingat, sampai saat ini”
“hah apa iya
abi?”
“iya nak, itu
orangnya, dia baru pulang dari mesir”
Aku merasa shok
saat abi mengatakan hal itu, dan entah mengapa air mataku mengalir dengan
derasnya.
“hanifa kenapa
abi?” dari raut mukanya, iqbal itu seperti khawatir melihat keadaanku yang
berurai air mata.
“hmm jadi
begini, maaf sebelumnya. Saya baru mengatakannya kali ini, karena kami merasa
shok waktu itu, dan sampai sekarang saya tidak pernah menceritakannya kepada
siapapun, karena takut hanifa menjadi shok atau trauma dengan kejadian itu”
“memangnya
kenapa abi? Kejadian apa yang menimpa hanifa abi?”
“jadi begini
nak iqbal, pak susilo, hanifa sempat
mengalami kecelakaan 6tahun yang lalu gara-gara tertabrak mobil, sehingga anak
kami ini tidak mengingat apapun atau mengalami amnesia, tetapi ada satu yang
dia ingat,yaitu hanya nama nak iqbal saja, itupun dia tidak mengenali wajahnya
yang mana, dia hanya mengingat namanya saja. Dan lebih menyedihkannya lagi,
hanifa tidak mengingat abi sama umminya, kami sempat khawatir dengan kesehatan
hanifa, tapi perlahan-lahan memorinya mulai kembali dan berangsur-angsur pulih
tetapi tidak kembali 100%.” abiku menceritakan pasal hilangnya ingatanku kepada
paman, bibi dan juga iqbal yang berada dihadapanku.
“astagfirullah,
kenapa abi baru cerita sekarang? Dan sekarang Hanifa? Apa sekarang kamu bisa
mengingatku? Aku iqbal, aku teman masa kecilmu, kita sering bermain bersama,
dan kamu sering memanggilku dengan sebutan bang iqbal, apa kamu masih ingat
hanifa? Kita sering bermain bersama di taman depan pondok, kita sering
berlari-lari dan selalu melihat pemandangan sore hari di dekat danau, apa kamu
ingat hanifa?” iqbal beruraian air mata karena dia merasa sedih aku pernah
mengalami hilang ingatan yang sampai saat ini ingatanku tidak 100% bisa
mengingat semua kejadian di masa kecilku.
“bang iqbal?”
aku berpikir keras dan mencoba mengingat kejadian kebelakang, aku mengingat
satu hal bahwa pada sore hari aku selalu melihat pemandangannya yang indah di
tepian danau. dan setelah aku mengingat sebagian kecil kejadian kebalakang,
barulah memori di otakku tiba-tiba terbuka sedikt demi sedikit dan mengingatnya.
“bang iqbal,
apa ini benar-benar bang iqbal yang dulu selau melindungi aku dari anak-anak
nakal dari kampung sebelah? abang yang selalu mendukungku ketika aku pernah
mengikuti lomba murotal se-kecamatan? Apa itu benar-benar abang?” aku tidak
bisa membendung air mataku yang mulai jatuh dengan derasnya.
“al-hamdulillah
akhirnya kamu mengingat semuanya, terimakasih ya allah kau telah mengembalikan
ingatan bidadari kecil hamba” bang iqbal, yah bang iqbal terlihat bahagia karena
aku sudah mengingatnya.
Ya terjawablah
semua pertanyaanku yang tadi pernah mengganjalku saat bertemu di depan pondok
bahwa aku seperti mengenalnya. Dan ternyata benar dugaanku, aku mengenalnya
begitu dekat. dan Kini aku bersyukur dapat bertemu dengannya dan dapat
mengingatnya setelah bertemu langsung dengannya.
Bang iqbal adalah teman kecilku yang paling
aku sayang dan juga aku hormati, tetapi aku dan bang iqbal harus berpisah
karena kalau tidak salah bang iqbal itu pergi ke mesir bersama orangtuanya
karena ayahnya bekerja sebagai duta besar di sana. Sehingga mau tidak mau,
mereka pindah dan bang iqbal menempuh pendidikan disana, dan sekarang kembali
lagi kesini untuk meneruskan jenjang SMA nya di pondok ini, tetapi dia sekarang
sudah duduk di bangku kelas 3, bang iqbal pindah kesini denga alasan dia ingin
mempunyai ijazah SMA itu dari pondok ini bukan dari mesir dan juga untuk dua
tahun kedepan ayahnya akan sering bolak-balik mesir-indonesia.
Malamnya aku
langsung membuka laptopku dan menuliskan Kejadian hari ini yang tak akan pernah
aku lupakan, dan memang sebelum-sebelumnyanya aku selalu mencatat seluruh
kegiatanku, atau cerita yang ku dapat setiap hari di laptopku, aku tidak suka
menulis catatan harianku di buku tulis, karena membutuhkan waktu yang lama jika
aku harus menulinya, jadi lebih baik aku gunakan saja teknoogi yang sudah
canggih ini, biarpun aku tinggal di pondok bukan berarti aku gagap teknologi,
itu persepsi yang salah, karena walaupun santri disini berdomisili di pondok,
tapi semuanya tidak gagap teknologi, semuanya mengikuti arus zaman. Dan setelah
aku selesai mencurahkan seluruh kejadian yang terjadi di hari ini di laptopku,
aku langsung pergi untuk tidur dan bangun lebih awal untuk melaksanakan shalat tahajud.
jam wekerku
berbunyi dengan sangat kencang menunjukan bahwa sudah pukul 3 pagi, dan kini
saatnya aku harus bergegas bangun untuk melaksanakan shalat tahajud dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu dan
juga sekalian mandi karena saat pagi nanti, aku tidak akan sempat untuk mandi
sebab aku selalu mengikuti kegiatan kuliah subuh yang berisi ceramah para kiyai
dan ustadz ustadzah sampai jam setengah tujuh pagi, sedangkan jam tujuh bel
sekolah sudah berbunyi.
Abi dan ummi
sudah standby di mushola, abi dan ummi selalu bangun lebih awal dariku, mereka
tidak pernah membangunkan aku untuk melaksanakan shalat tahajud, karena abi
bilang “abi akan bangga jika kamu melaksanakan ibadah itu bukan karena di
pertintah oleh abi, tapi atas dasar kesadaran kamu sendiri, karena melaksanakan
ibadah itu harus ikhlas, bukan karena takut dimarahi abi” kurang lebih abi
berbicara itu kepadaku dan selalu diingatnya dalam benakku, yah abiku itu
memang sangat bijaksana sekali, beliau tidak pernah mengekangku untuk melakukan
hal ini atau itu, beliau memberikan kebebasan kepadaku, Asal itu baik di mata
allah utamanya.
Sekarang abi
dan ummi sedang tadarus al-qur’an sambil menunggu aku untuk sahur bersama,
karena kami memiliki kebiasaan melaksanakan puasa sunnah senin dan kamis, dan
itu sudah menjadi kegiatan rutin bersama keluarga kami. dan Seusainya
melaksanakan shalat tahajud aku langsung pergi ke dapur menghampiri abi dan
ummi untuk makan sebelum waktu sahurnya habis, dan ternyata 10 menit setelah
makan sahur, adzan berkumandang. dan sekarang kini saatnya aku, abi, dan ummi
pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah.
Ketika aku
keluar dari rumah, dua sahabatku yang bernama ratih dan juga sahida sudah
menungguku untuk pergi ke masjid bersama, mereka berdua adalah sahabat terbaik
yang aku miliki, karena mereka selalu setia bersamaku baik dalam keadaan suka
ataupun duka kami selalu bersama, dan saling melengkapi setiap kekurangan yang
dimiliki.
“assalamu’alaikum
tuan putri? Ayo cepat kita pergi ke masjid, nanti telat lagi, kami sudah lama
menunggu kamu nih” ratih berlagak marah sambil tersenyum karena dia orangnya
jarang marah.
“wa’alaikum
salam sahabat-sahabatku yang setia, maaf kalian lama menunggu, hehe. Tadi aku
habis… ” aku menggoda mereka dulu supaya tidak marah-marah.
“hmm pasti udah
panggilan alam dulu, iyo kan?” sahida dengan logat jawanya mencoba
menginterogasi.
“huuh sok tahu
kamu sahida, orang aku…ah lupain ajah deh, eh temen-temen aku punya berita
besar loh, ah tapi engga mau cerita ah” aku mencoba membuat temanku ini
penasaran sambil tertawa geli.
“opo toh fa
berita besar opo toh? Kamu ndak boleh main rahasia-rahasiaan ama kita loh fa”
“iya apa fa
berita besar apa? Cerita dong fa jangan main sembunyi-sembunyian gak seru ah
kamu fa? Kita marah loh, iya kan sahida?”
“iyo, kita
berdua nanti marahan sama kamu loh, mau opo ora?” sahida mencoba membujukku.
“haha gitu ajah
marah,ntar deh aku ceritain sama kalian berdua, sekarang kita pergi dulu ke
masjid takut telat, nanti gak kebagian shalat jamaah nya”
Ketika hendak
masuk masjid, kami bertiga berpapasan dengan ustadz jaka, ustadz jaka tersenyum
kearah kami, yang membuat ratih dan sahida sangat histeris saat ustadz jaka
memberikan senyumannya yang sangat indah mempesona nan fenomenal. ratih dan
sahida adalah penggemar berat ustadz jaka, mengapa tidak? Karena ustadz jaka adalah ustadz termuda,
tertampan, terpintar, tersopan, dan terkaya di pondok ini, jadi pantas saja
kalu santri disini sangat tergila-gila dengan ustadz jaka termasuk ratih dan
juga sahida.
Ustadz jaka
adalah seorang guru pengajian di pondok ini dan juga seorang guru di MAN
Nurussalam, walaupun umur beliau ini terpaut hanya 4 tahun denganku, tapi
ustadz jaka sudah diangkat menjadi guru disini untuk mengajar para santri.
Padahal kalau di pikir-pikir ngapain mau ngajar disini, karena ustadz jaka ini
adalah putra dari pemilik perusahaan batu bara, tapi beliau tetap ingin stay
disini untuk mengajar para santri, itulah keputusannya dan orangtuanya pun
mendukung penuh keputusan putranya. Selain itu, ustadz jaka adalah alumni dari
pesantren ini, sehingga abi sudah mengenal kemampuannya untuk mengajar. dan
selama ustadz jaka mondok di sini, ustadz jaka sering mengisi pengajian ketika
ustadz yang bersangkutan berhalangan hadir. selain itu juga beliau adalah seorang mahasiswa di UIN
Yogyakarta semester 2 jurusan sastra arab, wah pokoknya ustadz jaka ini
memiliki banyak kejutan dalam dirinya, sehingga wajar saja kalau santri putri
disini ngefans berat sama ustadz jaka, dan ngejar-ngejar ustadz jaka.
Ketika di dalam
masjid, ratih dan sahida sangat heboh karena mendapatkan senyuman ustadz jaka
yang begitu fenomenal, mereka teriak-teriak sambil ditahan-tahan takut dimarahi
pembimbing asrama. dan akupun tidak memungkiri, aku juga menyuki ustadz jaka, menyukai
kesederhanaannya, dan menyukai kepintarannya tapi tidak sampai tergila-gila
seperti santri yang lainnya.
Seusai
melaksanakan shalat subuh bersama, kami bertiga dan para santri pergi ke gedung
untuk pengajian, mendengarkan ceramah para kiyai sampai nanti pukul 06.30 WIB.
waktupun tak akan terasa berjalan dengan begitu cepatnya karena seru
mendengarkan kajian agama, dan jam dindingpun sudah menunjukan pukul 06.25 WIB,
ceramah di akhiri oleh kiyai Mahmud dan semua santri berhamburan dari gedung
untuk segera mengantri di kamar mandi.
Aku pulang ke
rumah dan mengganti pakaianku dengan pakaian sekolah, karena aku harus bersiap
untuk menuntut ilmu yang berikutnya, dan kemudian aku berpamitan untuk
berangkat ke sekolah kepada abi dan ummi. Aku berangkat bersama-sama jalan kaki
dengan ratih dan juga sahida karena jarak dari rumah ke sekolah hanya sekitar 200
meter, tidak jauh, sangat dekat sekali, hanya membutuhkan waktu beberapa menit,
kamipun langsung sampai di sekolah.
Aku sekarang
duduk di bangku kelas 1 MAN Nurussalam, aku satu kelas dengan ratih dan juga
sahida di program keagamaan. . Kelasku berada di lantai 4, lantai teratas,
sehingga aku sering menggunakan lift karena jika menggunakan tangga, pasti aku
akan kelelahan, nyampe kelas bukannya belajar malah tepar.
Hal yang aku
sukai dari sekolah yang dikelola abi ini adalah:
1.
MAN Nurussalam
merupakan Madrasah Aliyah yang terbilang elite di Bandung. Bangunannya begitu
luas dan menjulang tinggi ke atas, suasananya masih asri dan juga sangat
nyaman, karena desain bangunan sekolah
ini dirancang olehku sendiri dan dibantu oleh perancang terkenal asal Jakarta,
aku meminta beliau untuk tetap mempertahankan keasriannya.
2.
Hal lain yang
aku suka adalah perpustakaannya yang begitu besar dan bukunya yang begitu
banyak menumpuk, rak-rak berjajar sangat rapi dan elok, kumpulan bukunya sangat
lengkap, dan tak jarang mahasiswa UIN Yogya datang berkunjung ke perpustaakn
ini untuk menambah referensi mereka.
Bel berbunyi
menandakan aku harus masuk kelas dan memulai pembelajaran di hari ini.
Pembelajaran berjalan dengan lancar tanpa suatu hambatan apapun. dan setelah
jam menunjukan pukul 10.00 WIB aku langsung pergi ke perpustakaan sendirian,
aku tidak pernah mengajak ratih dan juga sahida untuk pergi ke perpustakaan,
karena mereka sangat anti dan juga alergi dengan membaca dan melihat tumpukan
buku di rak yang begitu banyaknya.
Ketika aku
hendak masuk ke dalam perpustakaan, aku bertabrakan dengan bang iqbal yang
sedang menenteng buku di tangannya, semua bukunya jatuh, karena aku masuk
terlalu bersemangat dan sangat terburu-buru, aku takut jam istirahat berakhir.
“astagfirullah,
ba..bang iqbal, maaf maaf bang, biar hanifa yang beresin bang, hanifa tadi gak
liat-liat” aku buru-buru jongkok dan membereskan buku bang iqbal yang
berserakan di lantai.
“ih gak apa-apa
hanifa, biar abang ajah yang beresin, lagian tadi abang juga gak liat kalo di
depan ada orang” bang iqbalpun ikut membereskan bukunya yang berserakan.
“ini bang
bukunya, hanifa minta maaf bang, hanifa tidak sengaja, hanifa…”
“sst, gak apa-apa
hanifa, kamu kaya sama sipa saja, jangan canggung begitu, santai aja kali,
abang gak papa kok. Hanifa mau pergi ke perpus juga?” bang iqbal tersenyum kearah
ku melihatku tertunduk malu.
“hehe iya bang
maaf, ya iyalah hanifa mau pergi ke perpus, masa udah didepan perpus dibilang
mau pergi ke kantin” aku mengajaknya bercanda, tapi garing.
“oh iya, abang
kurang logis yahkalo gitu barengan yah, abang juga mau ini nyimpen buku”
“oh iya bang,
biar hanifa bantuin bang sini”
“engga, engga
usah, ini cuma sedikit kok, tenang aja” bang iqbal sok strong, padahal jelas
bahwa dia sangat keberatan dengan buku yang dibawanya, haha dia memang gak
berubah ternyata.
“yee abang sok
strong, huu dasar, padahal mah beratkan?” aku mengodanya untuk mencairkan
suasana.
“hehe hanifa
tahu ajah kalau abang keberatan bawa ini buku, nih kalo gitu ambil semua
bukunya, kamu yang bawa ya, haha” dia mulai bercanda dan suasanapun mencair.
“loh kok jadi
hanifa? Gak mau ah, mendingan hanifa kabur…” aku lari ke dalam perpustakaan dan
bersembunyi di balik rak besar
“dasar anak
nakal, dari dulu gak pernah berubah, tapi al-hamdulillah, hanifa sudah kembali
seperti semula, dasar bidadari kecilku yang cantik dan lucu, kalau masih kecil,
pasti sudah aku peluk itu anak, haha ”
Setelah mengembalikan
buku ke penjaga perpustakaan, bang iqbal lagsung datang menghampiriku, dan
anak-anak yang berada di sekitar terlihat memperhatikan aku dan juga bang
iqbal.
“hey mana yang
mau bantu abang? Dasar anak nakal, kalau kamu masih kecil pasti sudah aku cubit
pipi kamu itu” bang iqbal terlihat sangat gemes denganku.
“yee mana ada
orang yang mau bantuin kalo bukunya diambil semua sama yang dimintai tolong,
huu dasar, nih cubit nih cubit pipi” aku memegang tangan bang iqbal untuk
mencubit pipiku. Aku melakukannya dengan spontanitas, tangan bang iqbal
langsung kaku saat aku pegang dan terasa dingin, aku langsung melepaskan
tangannya. Dalam hati aku berkata “astagfirullah betapa bodohnya aku ini, kita
berdua kan sudah bukan muhrim lagi, kita berdua sudah baligh, masyaallah ampuni
aku ya allah, aku suka lupa segalanya kalau sudah bercanda”
“hanifa permisi
dulu bang assalamu’alaikum” aku langsung pergi dari hadapannya, dan tidak
sempat meminta maaf.
Aku langsung
pergi ke kelas dan langsung menunuduk di atas bangku, ratih dan juga sahida
yang melihatku mulai khawatir dengan keadaanku.
“hanifa, kamu
tidak apa-apa? Kamu kenapa? Datang ke kelas kok jadi pucat begitu, seperti yang
udah lihat hantu, ada apa hanifa? Cerita sama kita” ratih membredeliku dengan
pertanyaan
“iya hanifa,
ada apa toh? Kok datang ke kelas jadi begini, apa ada yang mengganggumu? Ayo
cerita sama aku, biar nanti tak laporin sama guru BK” sahida mulai emosi.
“eh apa sih
sahida main mau lapor ajah” aku marah pada sahida
“mbok ya kenapa
kalo gitu fa? Jangan buat kita khawatir dong, kita berdua ini kan sahabatmu
toh, jadi kamu jangan menyembunyikan apapun dari kita dong fa”
“jadi begini…”
aku menceritakan semuanya kepada ratih dan juga sahida mulai dari kejadian
kemarin sampai sekarang.
Mereka berdua
tertawa mendengarkan ceritaku, sampai-sampai sahida pergi ke toilet utuk pipis.
“fa..fa..
rasain kamu, makanya kamu kalau bercanda itu jangan berlebihan, jadi gini kan
baru kerasa akibatnya sekarang, bang iqbalnya sampai jadi mati kutu kalo gitu,
haha. Tapi kamu udah minta maaf kan?”
“malah ketawa,
menari diatas penderitaan teman sendiri itu namanya, belum tih, aku belum
sempat ngucapin maaf, soalnya tadi aku jadi gugup, aku langsung kabur ajah deh”
“bahahaha..hahaha..hahaha..
fa maaf ya aku izin ke toilet dulu, aku udah gak tahan nih, bahahaha, maaf ya,
aku permisi dulu”
“huh dasar,
punya temen kok beser semua, hehe” aku tertawa karena tingkah dari teman-teman
ku.
Dari arah luar
kelasku, terdengar suara ajeng memanggil namaku, dia berteriak untuk aku
keluar, katanya ada orang yang mau bertemu dengan aku. Siapa ya yang mencari
aku, mungkin guru yang mau ngasih tugas.
“iya ada apa
jeng?” aku pergi keluar, dan ternyata yang berada diluar itu bang iqbal, ya
allah, aku harus gimana, aku merasa malu atas kejadian tadi di perpustakaan.
“ha..”
“ba..” kami
berdua berbarengan mengucapkan nama masing-masing. Dan suasana hening beberapa
saat, tapi aku langsung memulai pembicaraan, karena aku tidak menyukai
kecanggungan ini.
“hmm bang iqbal
dulu ajah yang bicara” aku berbicara terbata-bata.
“hmm tidak,
hanifa dulu ajah yang ngomong, ladies first” bang iqbal malah mempersilakan aku
untuk berbicara duluan
“hmm ya udah
hanifa duluan, soal yang tadi…”
“aku minta
maaf” kami berdua mengucapkan kata maaf bersamaan, kemudian di sambung bang
iqbal yang berbicara.
“abang minta
maaf hanifa, tadi abang bercandanya berlebihan, abang suka lupa, abang merasa
kamu itu masih kecil padahal kita kan udah baligh, jadi..”
“iya bang aku
ngerti, malahan seharusnya aku yang minta maaf, karena aku sudah lancang sama
abang, padahal kita sekarang bukan mahramnya.”
“hmm baiklah
kalau begitu, kita akhiri kecanggungan ini ya, abang gak suka kalau suasananya
beku gini, kaya lagi di kutub utara ajah” bang iqbal mulai mencairkan suasana
lagi. Dan aku mulai tersenyum lagi.
“al-hamdulillah,
ada aromanis disini, manis banget” bang iqbal tertawa.
“mana bang?”
aku menengok ke arah kiri dan kanan.
“nih di depan
abang” bang iqbal menggombal.
“ih apaan sih
bang, abang gombal nih” aku tersipu malu, pasti sekarang pipi aku merah kaya
kepiting rebus nih.
“ih ada yang
malu nih, jadi makin cantik, makin lucu, ups” bang iqbal langsung menutup
mulutnya dengan kedua tangannya, dan terlihat malu saat mengucapkan bahwa aku
cantik dan lucu. Hehe dasar abang.
“abang pergi
dulu ya fa, bel masuk udah bunyi, assalamu’alaikum” bang iqbal gugup dan
langsung pergi sambil setengah berlari menuju kelasnya yang tidak jauh dari
kelasku, sambil menengok ke arahku dan tersenyum
“wa’alaikum
salam warahmatullah, ya allah hatiku meleleh rasanya, senyumannya ituh loh
manis kaya gula, eh atstagfirullah aku kok malah ngomong gitu, suka ngawur ah,
tapi emang iya sih, hehe” aku tersenyum sambil masuk ke kelas.
Ratih dan
sahida masuk kedalam kelas dan menghampiriku.
“eh sahida,
bukannya tadi cuacanya mendung ya? Tapi kok sekarang udah cerah kembali?
Al-hamdulillah yah”
“iyo ratih kamu
bener, sekarang cuacanya udah cerah kembali, syukurlah kalau begitu, hehe”
ratih dan sahida mulai mengajakku untuk bercanda.
“ih apaan
kalian berdua, bercanda mulu kerjaannya, gak ada yang lain apah?” aku berlagak
marah ke mereka berdua.
“ih jangan
marah dong hanifa, maafin kita berdua yah, kamu senyum lagi dong” ratih
melebarkan bibirku untuk tersenyum.
Aku tersenyum
ke mereka dan menceritakan kejadian barusan kepada mereka berdua.
“oalah
Al-hamdulillah kalo gitu mah fa, berarti masalahnya udah klir dong, udah rebes
kan?
“iya sahida,
al-hamdulillah, sekarang keadaan sudah kembali lagi ke semula, tapi hari ini
jadinya aku gak sempat baca buku di perpustakaan gara-gara tadi, hehe”
“itu sih
gara-gara ulah kamu sendiri fa, dasar kamu inih, jadi kena sendiri kan
batunya,hehe. eh fa, sekali-kali kenalin kita sama bang iqbal dong, kita kan
pengen tahu, bang iqbal itu yang mana, ganteng gak? Tadi sih kata anak-anak di
luar yang lagi rumpi, kakak kelas yang ngomong ama kamu itu katanya ganteng
melebihi ustadz jaka, apa bener fa? Wah masa ustadz jaka ada yang ngalahin
kegantengannya sih?”
“hehe iya nanti
aku kenali ke kalian berdua, tapi ada syaratnya”
“opo toh
syaratnya? Pake ada acara syarat-syarat segala toh? Haaa takut di rebut sama
aku yo? Haha tenang ajah fa, aku mah akan tetap setia sama ustadz jaka kok,
hehe”
“ada apa?apa
yang setia-setia hmm?” ustadz jaka tiba-tiba datang ke kelas.
“u..u..u”
sahida terbata-bata mengatakan nama ustadz jaka, dan pipinya mulai memerah
seperti kepiting bakar.
“u..u..u apa
sahida? Udah sekarang kalian semua duduk, kita sambung pelajaran matematika kemarin
yang belum selesai” ustadz jaka menyuruh kami untuk melakukan pembelajaran.
“haha rasain
kamu sahida, sekarang kena kamu sendiri” aku mengejek sahida yang sedang
tertunduk malu.
Pembelajaran
ustadz jakapun berlangsung selama 3 jam pelajaran. Kami sangat menyukai dan
juga menikmati pelajaran ini, karena ustadz jaka selalu menyampaikan
pelajarannya dengan jentre atau dengan jelas. karena beliau mempunyai prinsip,
“ seorang guru tidak akan sukses kalau muridnya belum mengerti dan juga faham
apa yang beliau sampaikan”. sehingga dalam pembelajaranya, ustadz jaka selalu
memantau muridnya, kalau-kalau ada murid yang tidak mengerti ustadz jaka tidak
akan beranjak dari materinya.
Bel berbunyi
menandakan waktunya jam istarahat kedua, yaitu untuk melaksanakan shalat dzuhur
berjamaah di masjid al-ikhlas, semua murid yang ada di sekolah berhamburan
keluar kelas untuk pergi ke masjid, dan kamipun melaksanakan shalat dzuhur
bersama.
Setelah
melaksanakan shalat dzuhur berjamaah, semua murid langsung memulai pembelajaran
kembali, dan akan berakhir pada pukul 3 sore. Semuanya berlangsung selama 3
jam, dan jam pelajaranpun berakhir, seluruh siswa menenteng tasnya dan kembali
ke asramanya masing-masing.
“hmm ratih,
sahida, hari ini aku tidak pulang bareng ama kalian yah?”
“memangnya
kenapa?”
“iyo kenapa?
Memangnya kamu mau kemana toh? Ajak-ajak kita dong fa”
“beneran kalian
mau ikut bareng aku? “
“memangnya kamu
mau kemana fa?”
“mau ke perpus,
mau ikut, haha”
“aku duluan
ajah deh kalo gitu hehe”
“hehe aku juga
mau ikutan ratih ajah ah, kalo ke perpustakaan mah kapan-kapan ajah, kan kamu
tahu sendiri kalo aku alergi sama buku yang menumpuk begitu banyaknya, hehe,
pengen muntah rasanya. Kalo gitu kita berdua pulang duluan yo, hehe
assalamualaikum fa”
“huh dasar
kalian, kalo di ajak ke perpustakaan ajah, pasti langsung pada kabur,
wa’alaikum salam, hati-hati yah”
“iya kamu juga
nanti pulangnya hati-hati yah” ratih dan sahida beranjak pergi dari hadapanku.
Tadi ustadz
ja’far ngasih tugas bahasa arab bwanyak bener, mumpung sekarang aku lagi di
perpustakaan, aku bakalan cari kamus arab dulu ah, nanti setelah itu cari buku
yang lain. Aku menanyakan letak kams bahasa arab karya Mahmud yunus kepada
penjaga perpustakaan, penjaga itu mengatakan bahwa kamusnya terletak di ujung
sebelah kiri, di rak bagian paling atas. Aku mencarinya dan menemukannya,
kamusnya hanya tinggal satu lagi yang tersisa, dan itu terletak di bagian
paling atas sekali. Aku mengambil kursi dan mencoba untuk meraihnya, dan ketika
aku hampir memegangnya, kamus itu malah ada yang mengambil dari arah berlawanan,
tanpa berpikir jernih itu siapa yang mengambilnya, aku langsung saja
marah-marah dan menghampiri orang yang mengambil kamus itu.
“gak tahu apah,
udah cape-cape naek kursi buat bawa kamus, malah di ambil du…” ketika aku
melihatnya, ternyata ustadz jaka yang mengambilnya, ups, aku jadi malu, aku
marah-marah gak jelas, ih malu-maluin banget emang aku inih.
“hanifa? Kamu
mau ambil kamus ini?”
“e..e..e iya
ustadz, saya tadi mau ngambil buku itu,
tapi pas..”
“nih ambil
ajah” ustadz jaka memberikan kamusnya padaku.
“eh engga
ustadz, gak apa-apa, biar ustadz ajah, mungkin ustadz lebih membutuhkannya
daripada saya, biar saya nanti cari kamus dirumah, biar nanti aku Tanya aja ama
abi”
“gak papa ini
ambil ajah, saya engga terlalu terburu-buru kok pakenya, kamu mungkin ada
tugas, biar kamu duluan ajah yang pake nih” ustadz jaka menyodorkan bukunya
kepadaku
“ayo ambil nih,
gak usah malu-malu, ambil gih sana”
“hmm ya udah
deh hanifa pinjem duluan kalo gitu ya ustadz”
“iya silakan,
tapi aku boleh minta satu hal?” ustadz jaka mengangkat alisnya salah satu.
“apa ustadz?”
“apa kamu gak keberatan
panggil saya abang selama di luar kelas?”
“hah abang? Emm apa saya sopan panggil ustadz
dengan sebutan abang?”
“engga apa-apa,
saya malahan senang kalau para santri disini panggil saya dengan sebutan bang
jaka ajah, biar lebih akrab, saya kan gak tua-tua amat iya kan?hehe, tapi kalau
didalam kelas ya tetep panggil ustadz jangan panggil abang, gimana?”
“oke deh boleh,
saya juga seneng kalau ustadznya seneng, hehe, sebelumnya makasih ya buat
kamusnya ustadz”
“hmm?”
“eh maksudnya
abang, hehe maklum belum terbiasa toh?hehe”
“iya engga
apa-apa kok, eh tapi hanifa, nanti kalau misalnya kamu udah selesai menggunakan
kamus nya, kamu jangan dulu dikasih oranglain yah, soalnya saya butuh untuk
tugas makalah saya”
“oh ok siap
bang, nanti hanifa langsung kasihin ke abangnya langsung,hehe. Kalo gitu hanifa
pamit pulang dulu yah, udah sore”
“sama saya juga
mau pulang kok, orang perpustakaannya juga mau tutup, ”
“oh iya, hehe.
Kalo gitu saya duluan mau ke penjaga perpus dulu”
“Iya silakan”
“assalamu’alaikum”
“wa’alaikum
salam warahmatullah” ustadz jaka tersenyum simpul, senyum yang fenomenal itu
diberikannya padaku. Wah kalau ratih dan sahida lihat, pasti mereka udah
pingsan disini.hehe
Aku pulang ke
rumah langsung pergi makan dan mandi,
setelah itu pamitan pada abi dan juga ummi untuk pergi ngaji.
Aku langsung
pulang bersama sahida dan ratih bercanda dengan mereka sepanjang jalan. dan ketika aku keluar dari gerbang sekolah,
aku merangkul sahida dan mengajaknya bercanda ke tengah jalan, ratih
memperingatkan aku supaya aku jangan bermain ditengah jalan, tetapi aku tidak
mendengarkan perintahnya, aku malah menarik tangan sahida untuk bermain-main,
tetapi tiba-tiba dari arah ber

Tidak ada komentar:
Posting Komentar