Jumat, 01 Juni 2018

hasil observasi SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta


BAB I
PENDAHULUAN
    A. Latar Belakang
Studi banding adalah salah satu cara efektif dalam rangka menambah pengetahuan untuk calon guru dengan belajar dari SD yang maju, dan lebih berpengalaman. SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta adalah salah satu sekolah unggulan dan sudah menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah lain dalam melakukan studi banding. SD tersebut sangat terkenal dengan kesuksesan siswa-siswinya yang sering mengikuti berbagai kegiatan perlombaan dan keluar sebagai juara baik yang berskala nasional maupun internasional. SD Muhammadiyah Sapen yang awalnya dicap sebagai sekolah terjelek di Yogyakarta kini telah bertransformasi menjadi sekolah yang unggul baik dibidang akademik maupun non-akademik. Hal ini yang menyebabkan rombongan mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam Ciamis melakukan kunjungan sekaligus penelitian bagaimana SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta bisa mendulang kesuksesan dan diakui sebagai salah satu SD terbaik di Yogyakarta khususnya.
Dan dalam laporan ini akan dibahas mengenai bagaimana SD Muhammadiyah Sapen dapat menjadi sekolah yang terkemuka dan bagaimana pengelolaannya.
   B. Rumusan Masalah
1.      Bagaimana SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta Dulu Dan Sekarang?
2.      Apa Yang menyebabkan SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta Berubah Menjadi Salah Satu SD Terkemuka Di Yogyakarta?



BAB II
HASIL OBSERVASI
   A.  SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta Dulu Dan Sekarang
Pada saat kami tiba disana, kami diajak terlebih dahulu untuk berkeliling melihat bagaimana isi SD Muhammadiyah Sapen, kami dipandu oleh salah seorang dewan guru dan menjelaskan bagaimana sarana  prasarana yang terdapat disana. Setelah kami diajak berkeliling, kami diberikan semacam ruang diskusi yang dipandu oleh kepala sekolahnya sendiri, dan beliau menceritakan bagaimana SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta dulu dan sekarang.
SD Muhammadiyah Sapen berdiri pada tanggal 1 Agustus 1967. Tidak seperti sekolah-sekolah swasta sekarang yang didirikan dengan modal besar oleh pemilik atau yayasannya. SD Muhammadiyah Sapen didirikan atas dasar keikhlasan, niat, dan semangat oleh para pendirinya. Adapun tokoh yang memprakarsai berdirinya SD ini adalah H. Sutrisno, Drs. Marsum, M.M., Sumarno, Djazari Hisyam, S.H., Drs. Kirmadji, dan tokoh sekitar kampung Sapen yang peduli dengan pendidikan.
Proses berdirinya SD Muhammadiyah Sapen sempat ditanggapi pesimis oleh warga sekitar. Perasaan pesimis itu muncul karena saat itu sama sekali tidak ada dana untuk membangun gedung dan biaya operasional sekolah sehingga SD Muhammadiyah Sapen hanya menempati musola kemudian berpindah ke sebuah balai yang sebenarnya tidak layak untuk dijadikan tempat belajar.
Melihat kondisi semacam itu Sumarno, salah seorang pemrakarsa berdirinya SD Muhammadiyah Sapen, merasa terpanggil untuk mewakafkan tanahnya seluas 1000 m. Pembangunan gedung pun dimulai pada tahun 1971 dengan terbentuknya panitia pembangunan yang diketuai oleh Prof. Dr. H.A. Mukti Ali, MA. Pembangunan ini berlanjut dengan adanya bantuan dari Prof.Dr. Amin Rais berupa tanah seluas 400 m2. kemudian disusul sumbangan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu yaitu Prof Dr. Wardiman Joyonegoro sehingga terwujudlah bangunan gedung lama. Pada tahun 2000 SD Muhammadiyah Sapen berhasil membebaskan tanah seluas 1800 m2 dan dibangun gedung hingga berwujud seperti sekarang
Bersamaan dengan proses pembangunan tersebut, SD Muhammadiyah Sapen mulai melakukan pembenahan. Sedikit demi sedikit mencoba untuk memperbaiki dan mencari cara untuk menjadi sekolah yang berkualitas. Dengan kerja keras yang dilakukan akhirnya SD Muhammadiyah Sapen mulai mendapat kepercayaan dari masyarakat. Dan mulai tahun ajaran 1991/1992 SD Muhammadiyah Sapen selalu meraih NEM tertingi di Yogyakarta bahkan tingkat nasional. Dan prestasi Akademis maupun Non-akademis pun berhasil diraih oleh SD Muhammadiyah Sapen baik tingkat nasional maupun internasional.
SD Muhammadiyah Sapen mulai dikenal, tidak hanya di wilayah Yogyakarta, tetapi juga Indonesia. Dari siswa yang dahulu hanya berjumlah 5 orang kini seiring dengan peningkatan kualitas dan kepercayaan masyarakat jumlah seluruh siswa telah mencapai 2400 siswa.
  B. SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta Berubah Menjadi Salah Satu SD Terkemuka Di Yogyakarta
Kesuksesan SD Muhammadiyah Sapen berdasarkan dari hasil diskusi kami disebabkan oleh 4 faktor utama yaitu guru yang profesional, pengelolaan kelas, penanaman karakter sedini mungkin, dan penyaluran minat dan bakat.
Peran guru didalam kelas yang tidak lain sebagai manajer dalam pembelajaran sangatlah penting, selain tuntutan seorang guru bagaimana dalam memberikan atau mengelola pembelajaran seorang guru juga harus mampu mengelola kelas yaitu mampu memberikan suasana belajar disekolah dengan mempertahankan atau menciptakan kondisi belajar yang optimal untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Pembelajaran yang berlangsung disekolah, dikelas dari pendidik untuk anak didiknya. Pengelolaan kelas menurut Martinis yamin dan Maisah (2009 : 34) merupakan ketrampilan atau upaya guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran. Selain itu peristiwa atau pengelolaan kelas yang dilakukan pada waktu awal-awal sekolah nantinya akan banyak berpengaruh pada pengelolaan kelas tingkat-tingkat berikutnya (Suharsimi Arikunto (1993: 193). Dalam hal ini guru berperan penting untuk membentuk karakter siswa sehingga untuk pengelolaan kelas selanjutnya siswa akan mudah menyesuaikan dengan mengembangkan nilai dan karakter yang telah dibentuk sebelumnya.
Dan dewasa ini tentu masih banyak kemampuan guru dalam mengelola kelas yang tidak sesuai dengan kebutuhan siswa, guru yang hanya sekedar menjalankan tugas mengajarnya. Padahal seorang guru yang baik tentu saja tidak seharusnya sekedar menjalankan tugas mengajarnya tetapi harus mampu dalam menerapkan pendekatan pembelajaran yang digunakan serta mampu memberikan kebutuhan siswa bahkan ketika siswa tersebut tidak memintanya. Sehingga seorang guru dituntut untuk mampu memahami siswa-siswanya dengan penyesuain kelas. Tantangan besar seorang guru dalam pengelolaan kelas adalah bagaimana mengendalikan perilaku peserta didik sehingga terlihat secara aktif dalam proses belajar mengajar, mengkondisikan lingkungan kelas yang positif, sehingga peserta didik siap mengikuti pembelajaran dengan baik, mendorong mereka bertanggungjawab atas perilakunya, mengem- bangkan ketrampilan pengelolaan diri terkait dengan kebiasaan kerja yang baik dan perilaku sosial yang positif.
Dan menurut hemat kami, guru SD Muhammadiyah Sapen ini terdiri dari tenaga pengajar yang profesional, karena ketika seorang mahasiswa IAID bertanya kepada kepala sekolah bagaimana caranya menjadi seorang guru di SD Muhammadiyah Sapen, di sana disebutkan banyak sekali persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya adalah IPK lebih dari 3,5, micro teaching di depan seluruh dewan guru, mengajar selama 1 bulan tanpa digajih, mengajar full day, dan masih banyak lagi persyaratan yang harus dipenuhi. Dan sudah pasti akan menghasilkan guru profesional dengan seleksi yang begitu ketat untuk menjadi seorang pendidik disana.
Disamping guru yang profesional dan pengelolaan kelas yang baik, Dalam mengikuti perubahan jaman maka pendidikan pun dituntut untuk melakukan perubahan, demikian juga dengan perkembangan kurikulum yang sebelumnya kurikulum KTSP 2006 sekarang menjadi kurikulum 2013 yang dikenal dengan pembelajaran tematik dan berpusat pada siswa. SD Muhammadiyah Sapen merupakan salah satu sekolah unggulan di Kota Yogyakarta, sekolah dengan terakreditasi A dan dalam pembelajarannya disertai dengan memberikan pendidikan karakter, selain itu SD Muhammadiyah Sapen juga salah satu sekolah yang dipercaya siap mengimplementasikan Kurikulum 2013 dimana didalamnya terdapat pendekatan saintifik berbasis karakter. SD Muhammadiyah Sapen Kota Yogyakarta menggunakan kurikulum 2013 dalam semua mata pelajaran.
SD Muhammadiyah Sapen  selain telah menerapkan kurikulum 2013 juga merupakan salah satu sekolah yang memiliki perhatian khusus terhadap pembentukan nilai-nilai pendidikan karakter. Bagi peserta didiknya sudah lama melaksanakan dan mengembangkan nilai-nilai pendidikan karakter yang dilakukan dalam bentuk pembiasaan kepada setiap peserta didiknya dalam kegiatan kesehariannya dengan melibatkan semua komponen warga sekolah, yang dimulai dari sejak kedatangan siswa hingga kepulangan siswa. Dan memang benar adanya, bahwasanya ketika kami melakukan kunjungan pada pukul 07:00 WIB para siswa-siswi disambut oleh seluruh dewan guru dan membudayakan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun). Penerapan nilai-nilai pendidikan karakter yang dilaksanakan di SD Muhammadiah Sapen Kota Yogyakarta ini disesuaikan dengan visi dan misi SD Muhammadiyah Sapen
Kemudian disamping itu, program unggulan Sapen yang paling menarik bagi kami untuk di pelajari adalah keberhasilannya dalam mengembangkan inovasi program sekolah berupa pembagian atau pengelompokan kelas. Program ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui, menggal, dan menyalurkan minat serta bakat siswanya.  Adapun 4 program yang ada di SD Sapen diantaranya adalah : Program SBI, Program CI MIPA (Cerdas Istimewa Matematika dan IPA), Program akselerasi, dan Program atau kelas reguler. Dengan melakukan pembagian tersebut membuat guru dengan mudah menemukan potensi siswa-siswinya. Dan benar adanya, dengan diberlakukannya program tersebut membuat siswa-siswi SD Muhammadiyah Sapen ini menjadi lebih terarah dan dapat dengan mudah mengetahui kelebihan siswanya. Oleh karena itu siswa-siswi SD Muhammadiyah Sapen sering diikutsertakan dalam berbagai perlombaan dan memenangkan berbagai kejuaraan.




BAB III
PENUTUP
      A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi yang kami lakukan, keberhasilan SD Muhammadiyah Sapen ini disebabkan oleh 4 faktor utama yakni guru yang profesional, pengelolaan kelas yang baik, penanaman karakter sedini mungkin, dan penyaluran minat dan bakat yang tepat. Dan dengan seiring berjalannya waktu akhirnya SD Muhammadiyah Sapen dapat menjadi salah satu SD yang terkemuka di Yogyakarta dan menjadi sekolah terfavorit berdasarkan 4 faktor tersebut, tetapi ke 4 faktor itu tidak akan berhasil jika tidak didasari dengan keikhlasan, begitu ujar kepala sekolah SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta.


DAFTAR PUSTAKA
1.      Martinis Yamin dan Maisah. (2009). Manajemen Pembelajaran Kelas. Jakarta : GP Press.
2.      Suharsimi Arikunto. (1993). Manajemen Pengajaran. Jakarta : PT. Rineka Cipta



Tidak ada komentar:

Posting Komentar